Perawi Hadis: Mereka Tak Sekedar Menghafal, tapi Mengamalkan

✍️ Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. 📅 23 Sep 2025 👁️ 105 📝 Kategori: Wawasan Keislaman
Perawi Hadis: Mereka Tak Sekedar Menghafal, tapi Mengamalkan
Imam Muslim dalam kitab Sahih Muslim meriwayatkan sebuah hadis agung yang sangat memotivasi kita untuk menjaga amalan salat sunah rawatib. Hadis ini datang dari jalur al-Nu‘mān bin Sālim, dari ‘Amru bin Aus, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Anbasah bin Abī Sufyān, ia berkata: Aku mendengar Ummu Habībah radhiyallahu ‘anha berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

Artinya: “Barang siapa mengerjakan salat sunah rawatib dua belas rakaat dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.”

Hadis ini bukan sekadar janji tentang keutamaan ibadah, tetapi juga bukti nyata bagaimana generasi awal Islam (para perawi hadis) benar-benar bersemangat mengamalkan ilmu yang mereka dengar langsung dari Rasulullah ﷺ. Perhatikan mata rantai semangat itu:
Ummu Habībah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ, begitu mendengar hadis ini, ia langsung berkata: “Sejak aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ, aku tidak pernah meninggalkannya (salat sunah rawatib 12 rakaat).”
‘Anbasah bin Abī Sufyān yang mendengar dari Ummu Habībah berkata: “Sejak aku mendengarnya dari Ummu Habībah, aku tidak pernah meninggalkannya.”
‘Amru bin Aus yang mendengar dari ‘Anbasah menegaskan: “Sejak aku mendengarnya dari ‘Anbasah, aku tidak pernah meninggalkannya.”
Al-Nu‘mān bin Sālim yang mendengar dari ‘Amru bin Aus juga berkata hal yang sama: “Sejak aku mendengarnya dari ‘Amru bin Aus, aku tidak pernah meninggalkannya.”

Subhanallah, betapa luar biasanya rantai keberkahan ilmu ini! Dari Rasulullah ﷺ, kemudian kepada Ummu Habībah, lalu berpindah kepada ‘Anbasah, terus ke ‘Amru bin Aus, hingga akhirnya sampai ke al-Nu‘mān bin Sālim. Setiap orang dalam rantai ini bukan hanya meriwayatkan, tetapi juga mengamalkan. Inilah cerminan nyata bahwa ilmu dalam Islam bukan hanya untuk dikoleksi atau disampaikan, melainkan untuk dijalankan dengan penuh semangat.

Bayangkan, satu hadis ini saja mampu menumbuhkan gelombang amal yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka tidak sekadar berkata “aku mendengar,” tetapi langsung menegaskan “aku tidak pernah meninggalkannya.” Itulah teladan para perawi hadis: antusias, konsisten, dan serius menjaga ilmu agar tidak berhenti di lisan, melainkan hidup dalam amalan sehari-hari.

Pesan besar dari hadis ini adalah bahwa menjaga salat sunah rawatib 12 rakaat setiap hari bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi investasi besar menuju surga. Dan semangat para perawi hadis yang langsung mengamalkannya menjadi bukti bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang diamalkan, bukan hanya dipelajari.

Jadi, kalau mereka saja begitu antusias dalam menghidupkan hadis ini, bagaimana dengan kita? Bukankah kita juga ingin memiliki rumah di surga yang dijanjikan Rasulullah ﷺ?

Ust. Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A.
(Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)
Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A.
Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A.

Ketua

Berikan Komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.

Komentar

Chat WhatsApp